Aden

Aden
it's real

Jumat, 30 Desember 2011

Review tahun 2011

Yah, saatnya me-review apa saja yang terjadi di tahun 2011 ini sambil mendengarkan sebuah lagu dari Ada Band - Manusia Bodoh.  Lagu yang benar-benar mengingatkan ku akan apa yang terjadi di tahun ini sehingga cukup bagiku menjadi sebuah batu penyesalan yang harus di bawa dan di jaga agar tidak melukaiku lagi di tahun berikutnya.
Ini dia lirik dari Ada Band - Manusia Bodoh

Dahulu terasa indah
Tak ingin lupakan
Bermesraan selalu jadi Satu kenangan manis

Tiada yang salah
Hanya aku manusia bodoh
Yang biarkan semua ini permainkanku
Berulang ulang kali

Reff :
Mencoba bertahan sekuat hati
Layaknya karang yang dihempas sang ombak
Jalani hidup dalam buai belaka
Serahkan cinta tulus di dalam takdir

Tak ayal tingkah lakumu
Buatku putus asa
Kadang akal sehat ini
Tak cukup membendungnya

Hanya kepedihan
Yang selalu datang menertawakanku
Engkau belahan jiwa
Tega menari indah di atas tangisanku

Bridge :
Semua kisah pasti ada akhir
Yang harus dilalui
Begitu juga akhir kisah ini
Yakinku indah

Tapi sampai kapankah kuharus
Menanggungnya kutukan cinta ini
Bersemayam dalam kalbu           

Memang terkesan ngenes tapi bagaimanapun juga cukup lah mengingatkanku untuk bertindak lebih hati-hati dan memikirkan resiko yang sedang tersenyum indah menanti kedatanganku.  
Di tahun 2011 ini aku merasakan menjadi manusia paling hebat bahkan sekaligus manusia paling lemah. Kenangan-kenangan ku akan tahun ini terasa sekali pekatnya. Banyak yang kudapatkan tetapi banyak juga yang kulepaskan. Tak semua aku mengira hidupku mulus begitu saja dan sebuah penyesalan akan kesalahan rasa. Semula ku berharap begini tapi datanglah padaku sebuah kutukan terdahsyat yang mampu melumpuhkan segala tindakan ku. Terkurung dan tetap berdiri dalam keadaan tersandera.

Jumat, 23 Desember 2011

Terlebih Dari Hancur

Ketika aku berhadapan dengan kenyataan hidup yang berawal hari ini. Mungkin aku masih bisa bernafas lega dengan segala kerendahan hati walaupun terkadang hati ku sulit sekali untuk merendah. Tetapi ketika sebuah penyesalan datang dengan indahnya pada pagi ini, sungguh bukan berarti apapun untuk kehidupanku kebelakang. Saat itu mungkin juga mengingatkan ku bahwa aku bukan terlebih istimewa lagi seperti yang ku impikan.. aku Terlebih Dari Hancur


Mungkin satu mimpiku sudah hancur. Tapi, tidak dengan sejuta impianku di dunia ini. Tersedia banyak sekali impian yang melintas di depan mataku. Mulai dari yang paling bawah hingga paling ujung tempat teratas. Semua hanya impian ku saja ketika aku sudah melupakannya saat mataku tertutup untuk sebuah hari.

Aku sama sekali tidak menyebut semua impianku dengan sebutan harapan. Karena ketika aku selalu berharap, harapan-harapan yang menumpuk itu malah menjadi senjata yang sangat tajam ketika tidak tercapai. Sama halnya seperti kisah ku kali ini, karena aku selalu menamai impian ku sebagai harapan, aku selalu berjuang agar harapan itu bisa menjadi nyata. tetapi kenyataannya selalu saja tidak seperti apa yang kuharapkan

Sama saja bagiku menulis sebuah tulisan bebas tentang penyesalanku. Bukan tidak ada habisnya bila ditulis, karena hidupku selalu begini mungkin agar aku bisa lebih belajar dari semua kesalahan yang pernah ku buat. Bukannya terkesan menggurui, atau aku ingin sekali berbagi tentang kehancuranku. Tetapi aku ingin sekali ketika aku sedang membaca tulisan ini, hal yang paling bisa ku mengerti adalah bahwa AKU PERNAH HANCUR dan TERLEBIH DARI HANCUR.

Ya, tidak ada hal lain yang harusnya ku bagikan lagi di postingan ini, karena bagiku sudahlah cukup waktu untuk mengetik posting ini di malam yang pengap ini. Dan ketika aku sudah benar-benar akan terlelap malam ini, hal yang sangat aku mimpikan adalah aku melihat diriku jauh terjatuh lebih tersungkur dan tak terukur pada sebuah jurang kehancuran yang sangat gelap dan tidak bersisa suara sedikitpun sehingga aku selalu senantiasa terjaga di malam ini. Karena sungguh aku mengimpikan hari ini tidak cepat berlalu dengan cueknya. Aku ingin terbangun dan dalam keadaan berbeda. Jauh Berbeda


Rabu, 21 Desember 2011

My DIEry "end" episode

-akhir-

by Firman Adendro Sasotyo on Tuesday, October 4, 2011 at 4:52pm
Terasa berat sekali untuk menulis catatanku yang ini. Awal yang sangat sulit dituangkan oleh sebilah pensil ini. Kali ini yang merasakan betapa bercampurnya dosa dan pahala semakin luas. Tapi mengapa aku merasa sedikit tenang, sembari merasakan penyakit kecil tumbuh dalam perasaan.

Hal yang benar-benar mengisi pikiranku hari ini hanyalah, melamun agar hari ini tidak cepat berakhir. Bagaikan, oh, bagaikan. Terlalu berlebihan ku berandai. Di saat jam masih berdetak berirama. Mereka sedang menyambut habisnya tenaga mereka untuk berdedikasi menunjukkan pencerahan waktu bagi yang melihatnya. Sempat berpikir, seandainya aku bisa seperti jam dinding itu ? Mungkin aku tidak akan merasakan perasaan sayang yang begitu melayang.

Kalau boleh kubilang, hidupnya dipenuhi pengisi hidup yang gemerlap. Bagaikan cinderella, tapi jalan hidupnya tak semulus make up myrabella. Disana lika-liku kehidupannya terkontaminasi oleh senyawa kehidupanku. Disana teka-teki kehidupannya mulai terbuka setelah seorang kawan datang padanya.

Bukan aku tak memandang sebelah, dan menoleh menengadah ke pangkuannya. Bila di praktekkan pun membuat pusing. Sama halnya aku. Tanpa tujuan mencari sekutu dan pendukung.

Andaikan saja, ini adalah akhir kisahku.

Berbuat sesuka hati dalam pembukuan ini. Menghilangkan segala kegalauan dan hinaan atas dosaku. Dosa yang benar-benar membuatku merasakan deskriminasi perasaan.

Di bagian akhir ini aku berharap di tengah peperangan ini, aku masih bisa melihat kebenaran yang kupaparkan kepada pasir. Sehingga aku berdo'a , semoga dia tidak tahu apa yang sebenarnya kebenaran yang kusembunyikan. Dan yang dia tahu adalah apa yang kuharapkan dia tahu tentang betapa bajingannya diriku.

My DIEry the next episode

(hanya) ekspresi

by Firman Adendro Sasotyo on Tuesday, September 27, 2011 at 4:02pm
Bahagia, apakah ada kata lain yang bisa menggantikan makna itu sebenarnya ?
Perasaan yang sangat bisa dirasakan sekitarnya tanpa di ungkapkan.
Sedih, apakah ada kata lain yang bisa menggantikan makna itu sebenarnya ?
Perasaan yang tidak bisa di rasakan oleh sekitarnya BILA TIDAK DI UNGKAPKAN.

Tulisan memang bisa terbaca, tapi dalam keadaan penulis sedang mencurahkan. Tidak ada yang tahu bagaimana dia sedang mengayunkan pensilnya dengan lembut atau dengan kasar.

Kemana aku datang, di tempat itu lah aku di alih pandangkan menuju kesamping.
Bahkan di dalam sebuah rumah yang megah, di tempat itulah aku di arahkan menuju pintu keluar.

Biar saja aku yang merasa bahagia atas perlakuan itu. Tapi hiraukanlah perasaan sedihku.

baru saja kutulis


by Firman Adendro Sasotyo on Tuesday, September 27, 2011 at 8:48am
Layaknya bajingan yang tidak siap kalah. Bahagia sesaat yang kurasakan kini perlahan mulai pudar. Dengan bertubi-tubi aku dibuang dan di laknat. Dengan segala pedih bahkan air yang tak kunjung berhenti ketika diusap. Mungkin aku bukan orang yang kau harap. Dengan segala tipu daya, oh, terlalu berlebihan ku berharap.
Bahkan menjadi api yang datang menghangatkan seketika menjadikan diri ini panas yang bergelora.

Hanya saja, aku terlalu lalai. Hanya saja, aku terlalu lebay. Harapan itu hanya bisa jadi nyata, ketika dalam mimpi.
Kepekaan rasa ini harus aku hilangkan. Menyepi dalam sedih dan meramaikan hati walaupun galau datang.

Bilamana aku terlalu senang, aku pun tak siap untuk kedatangan sesembah sedih.
Bilamana aku terlalu sedih, aku pun dengan lantang menyambut kebahagiaan.
Bajingan, aku menyebut diriku bajingan.
Brengsek, aku menamaiku brengsek.

Mungkin aku terbiasa, tapi ketika kebiasaan itu hilang aku tak siap.
Kehilangan yang sesungguhnya ku inginkan.
Mungkin aku tak biasa, tapi ketika ke tidakbiasaan itu hilang aku tak siap.
Menyeringai walau berat ku sanggah.

Pensil ini terlalu sibuk untuk menuruti permintaanku. Tetapi dia tetap diam.

My DIEry

.

by Firman Adendro Sasotyo on Thursday, September 22, 2011 at 4:02pm
Karena ketika aku merasakan cinta sesungguhnya untuk kedua kali di tahun ini terasa begitu berat kujalani.
Dimana pengorbanan atas kesetiaan dalam berjuang untuk orang yang kucinta. Aku harus Menyerahkan hasil akhirnya pada orang lain.
Tanpa mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam peperangan perasaan ini.


'

by Firman Adendro Sasotyo on Saturday, September 24, 2011 at 10:23pm
Sekarang memang sudah berbeda. Tersiksa sendiri akibat dari pemangkasan ini. Sudah terlanjur penyesakan di dalam hati. Siapa sangka memang bukan aku. Tapi orang lain. Tanpa mengira semua berjalan terbalik. Bahkan sudah tidak ada lagi rasa yang harus di perjuangkan. Sesak biar aku saja yang merasakan. Tapi kebahagiaanmu, biar kau rasakan sendiri. Ini bukan untuk yang istimewa di hati, tapi ini untuk yang hidup disini. Di hati.

Terperangkap, bahkan tidak bisa bergerak untuk mengatakan sesungguhnya. Biarlah. Hanya aku seorang yang tahu. Bukan aku yang menyembunyikan fakta. Tapi aku tidak bisa berkata untuk 'jangan..'

Seperti apakah perasaan tak terungkap tanpa mereka sadari itu ?

Bahkan, aku tak tahu seperti apa bentuknya. Bahkan, besarnya pun tidak terlukiskan.
Rasa ini sungguh berat aku simpan sendiri. Tetapi, hanya tetapi...

Dimensi yang ku buat

by Firman Adendro Sasotyo on Sunday, September 11, 2011 at 1:09pm
 
Dimensi tulisan ku memang berbeda dengan yang lain. Aku pun tidak menyuruh orang untuk berbuat,bergerak, ataupun menyadarkan. Aku dalam dimensi ku, menyatakan ungkapan hati. Tak lebih dari tulisan abstrak tak bermakna. Dimensi yang ku arungi adalah sebuah lingkaran permasalahanku. Dimana aku harus bisa bersandar di satu sisinya tanpa tergelincir. Berdiri dengan satu hadap, dan menghiraukan sekeliling sisi yang saling berhadapan.

Dimensi yang kubuat sendiri ini, mungkin sulit di terima dan di cerna. Layaknya perlakuan mereka terhadap karakterku ini, membuang seperti sampah dan menaruh kebencian kepadaku. Biarlah, itu karena pemimpin mereka yang tak karuan tingkahnya kepadaku. Sulit menerima kebenaran dan lebih memilih membalikkan kata-kata 'benar' menjadi 'salah'. Layaknya anak kecil, tidak mau di salahkan dan anti terhadap kata ampun.

Terlebih lagi, bagi mereka yang tidak suka dengan kehadiranku di kehidupan mereka. Mengikrarkan diri sebagai orang paling hebat di dunia yang di buatnya sendiri dan mengakui ku sebagai bedebah busuk di kehidupan glamor nya.
Memang aku yang harus nya di buang di telantaran.

Tapi, semua terserah mereka. Ini dimensi ku ini kehidupan ku.
Berteman saat butuh pun terserah. Bahkan apapun tindakanmu.. Terserah.
Yang terpenting, aku lah pembangun dimensi kehidupanku. Yang berhak atas semua tindakanku. Bukan para permaisuri dan dewa yang menyatakan dirinya sendiri.

Tanpa mengurangi inspirasi dan kreasi.

Ketika ku tersanjung

by Firman Adendro Sasotyo on Saturday, September 10, 2011 at 4:08am
 
Mungkin hanya sebuah pertanda kecil dan segelintir perasaan ini saja yang kurasakan saat ini.
Tanpa menyangka hal itu pasti terjadi sekarang. Bahkan untuk menulis ini pun aku harus memotong kuku dulu untuk mempermudah.
Saat yang ku tunggu pun akhirnya telah tiba, dimana aku harus menyatakan perasaan lewat tulisan semrawut ini. Meskipun tidak langsung dan tidak ada yang tahu tulisan ini untuk siapa. Karena hanya aku yang berusaha menyimpannya seorang.

Selama waktu ini, aku hanya melakukan apa yang ku anggap pantas. Membahagiakan, menyenangkan, dan mendedikasikan semuanya yang terbaik. Dan aku tidak berusaha menganggap itu semua sebagai pengorbanan, karena sebenarnya aku pun tidak merasakan hal yang aneh, sebelum,saat, dan sesudah aku melakukannya. Mungkin mereka semua sedang berfikir, agar aku terlihat baik di mata mereka yang kotor. Dan tidak ingin menerima semua perlakuanku karena ratu mereka telah berbuat nista di hadapanku, sedang mereka dengan setia kepada ratu, menuruti apa mau nya, dan berbuat sesuai kehendak ratu nista itu.

Sebenarnya, aku tidak masalah. Karena ratu itu, belum cukup umur bagiku untuk mengetahui seluruh kehidupan ku. Dan mengerti apa yang ku anggap baik. Lalu apakah aku mencampuri hidupnya ? Jawabnya tidak, karena selama ini aku pun tak mencari tahu berita-berita tentang kemunafikannya, tapi beberapa orang datang kepadaku dan memberikan kabar tentang perbuatannya.

Sungguh aku tidak peduli.

Tapi yang membuat pikiran kacau adalah, selir nya yang berusaha setia kepada ratu nista itu, dengan lembut berdoa kepadaku ''semoga kamu tetap jadi teman baikku''

Apa sih STATUS itu ? (bukan untuk di jiplak)

by Firman Adendro Sasotyo on Thursday, September 1, 2011 at 5:53pm

Status adalah sebuah kotak dimana kita bisa mengutarakan apa saja dalam kotak itu dan bisa di baca semua orang yang kita hendaki. Di dalam status juga, semua orang bisa merasakan apa yang dirasakan oleh penulis. Mulai dari perasaan, informasi, bahkan menyatakan cinta, ketidaksukaan, pernyataan diri, dan media penghilang stress. Semua manfaat status memang bergantung pada penulis, tetapi, tidak semua orang bisa menulis status yang baik. Terkadang lewat tutur kata yang ambigu dan menyinggung secara terang-terangan. Secara tidak langsung, merusak citra status yang tadinya saya sebutkan.
Status juga sering di salahkan penggunanya apabila terjadi konflik nyata antar pengguna. Mereka berkata, ''Lihat tuh statusmu ! Nyinggung banget tau gak?!''. Apakah ini wujud dari terima kasih kepada status ? Harusnya mereka sadar, apabila tanpa status, apakah kita bisa mengetahuinya. Dan kali ini status lah yang jadi kambing hitam perusak pertemanan.
Fenomena lain adalah, ketika para penggunanya salah tangkap informasi atau salah persepsi. Sebenarnya dengan status, para penggunanya ingin berbagi kebahagiaan dengan temannya. Tetapi ketika status itu berbunyi lain dan cenderung menyombongkan diri, lalu siapakah yang di salahkan dengan kata-kata ini,''Status mu lo sombong banget!'' ? Dan lagi-lagi status lah yang di salahkan.
Dari sisi agama sekarang, apakah berdoa bisa dilakukan di status ? Jawabnya 'bisa' (bagi para pengguna tentunya). Tetapi, apakah mereka sadar bagi yang beragama muslim, berdoa yang dilihat orang banyak itu nantinya akan berujung riya' bila ada yang salah persepsi. Meskipun begitu, daripada doa kita berdekatan dengan riya' apakah tidak sebaiknya kita menghindarinya ? Semua bergantung bagi yang membaca status, dan penulis pun tidak akan tahu kalau status yang di tulisnya di anggap sebagai riya'.

Dan kembali ke status, sebuah kotak yang sering di persalahkan karena perbuatan penulis. Untuk itu, pandai-pandai lah menulis status karena STATUSMU = HARIMAUMU.


Adendro anak baik'ers :D